Greenmind.id, Jakarta — Dari tangan-tangan yang peduli, lahir gerakan yang berarti. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PWNU DKI Jakarta resmi menjalin kolaborasi dalam pengelolaan sampah organik berbasis komunitas. Kolaborasi ini tidak sekadar tentang mengolah sampah, tapi juga menanamkan nilai keberlanjutan di tengah masyarakat.
Program ini melibatkan pesantren, majelis taklim, dan karang taruna, dengan tujuan membangun kesadaran kolektif bahwa sampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya bernilai ekonomi. Melalui pendekatan berbasis komunitas, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi hijau.
Dalam kerja sama ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berperan memberikan pelatihan, pendampingan, serta penerapan teknologi ramah lingkungan. Salah satu fokusnya adalah biokonversi sampah organik menggunakan maggot, sebuah metode yang terbukti efektif dan bernilai ekonomis tinggi bagi warga.
“Edukasi pemilahan sejak dini menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah di kota besar seperti Jakarta,” ujar Asep Kuswanto, Kepala DLH DKI Jakarta.
Sementara itu, PWNU DKI Jakarta turut menggerakkan jaringan pesantren dan majelis taklim untuk menanamkan budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Upaya ini juga menjadi pintu bagi pemberdayaan UMKM lingkungan dan pembangunan ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Langkah kolaboratif ini menjadi wujud nyata bahwa pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan semangat gotong royong, Jakarta bergerak menuju kota yang bersih, mandiri, dan berkelanjutan. tempat masyarakat berperan aktif menjaga bumi dari lingkungan terdekatnya.
