Populasi di Ambang Punah, Badak Sumatera Berjuang di Sisa Habitatnya

Sumber: savesumatranrhinos.org

Badak sumatera kini menjadi salah satu satwa paling langka di dunia. Diperkirakan hanya tersisa sekitar 34 hingga 47 ekor di alam liar. Hewan berukuran mungil dengan tubuh gempal ini dikenal sebagai badak berambut, satu-satunya jenis badak yang memiliki rambut lebat di sekujur tubuhnya.

Dari hampir seratus spesies badak yang pernah menghuni bumi, kini hanya lima yang tersisa: badak india (Rhinoceros unicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak hitam (Diceros bicornis), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Dua di antaranya hidup di Indonesia, menjadikan negeri ini memiliki tanggung jawab besar terhadap keberlangsungan spesies langka tersebut.

Ciri Khas Si Mungil dari Sumatera

Sumber: savesumatranrhinos.org

Menurut data Yayasan Badak Indonesia (YABI), badak sumatera memiliki berat antara 600 hingga 950 kilogram, dengan tinggi mencapai 1 hingga 1,5 meter dan panjang tubuh sekitar 2 hingga 3 meter. Kulitnya berwarna coklat kemerahan dan tertutup rambut pendek berwarna kehitaman. Dua culanya memiliki ukuran berbeda: cula depan bisa mencapai 80 sentimeter, sementara cula belakang biasanya kurang dari 10 sentimeter.

Berbeda dari jenis badak lain, badak sumatera merupakan spesies paling tua secara evolusi. Mengutip Mongabay Indonesia, hewan ini merupakan kerabat dekat dari badak berbulu lebat (Coelodonta antiquitatis) yang telah punah sekitar 14.000 tahun lalu.

Sebagian besar populasi badak sumatera kini diyakini hanya tersisa di Sumatera bagian utara. Mereka hidup di hutan pegunungan yang lembap dan berbukit, dekat dengan sumber air. Namun karena medan yang terjal, pengamatan terhadap spesies ini menjadi sulit dilakukan. Para peneliti bahkan menyebut badak sumatera sebagai salah satu hewan paling sulit dilacak di dunia.

Ancaman yang Mengintai

Menurut IUCN Red List, badak sumatera masuk kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah. Penurunan populasi utamanya disebabkan oleh kehilangan habitat akibat deforestasi, serta perburuan ilegal yang memanfaatkan culanya untuk perdagangan gelap.

Selain itu, populasi yang kecil membuat tingkat perkawinan antar individu semakin rendah, sehingga memperburuk peluang reproduksi. Upaya konservasi terus dilakukan, seperti program penangkaran di Taman Nasional Way Kambas dan Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Lampung.

Menjaga Harapan untuk Si Badak Berambut

Keberadaan badak sumatera menjadi pengingat bahwa kekayaan fauna Indonesia berada di ambang batas. Melindungi hutan berarti melindungi rumah terakhir mereka. Tanpa tindakan nyata, suara lembut badak berambut dari Sumatera ini mungkin hanya akan tinggal dalam catatan sejarah.

Sumber:

Hance, J. (2025, 30 Agustus). Laporan: Badak Jawa dan Badak Sumatera di Ambang Kepunahan. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2025/08/30/laporan-badak-jawa-dan-badak-sumatera-di-ambang-kepunahan/ Mongabay.co.id

Nuswantoro. (2024, 28 September). 10 Fakta Penting Badak, Satwa Pemalu yang Terancam Punah di Bumi. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2024/09/28/10-fakta-penting-badak-satwa-pemalu-yang-terancam-punah-di-bumi/ Mongabay.co.id

Yayasan Badak Indonesia (YABI). (n.d.). Sumatran Rhino. https://badak.or.id/sumatran-rhino/ Yayasan Badak Indonesia

Emslie, R. H., Milliken, T., & Talukdar, B. (2022). African and Asian Rhinoceroses – Status, Conservation and Trade: Report from the IUCN Species Survival Commission (SSC) African and Asian Rhino Specialist Groups and TRAFFIC to the Secretariat of the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) pursuant to Resolution Conf. 9.14 (Rev. CoP17). CITES.

Bagikan ke :