“If you’re intelligent, you don’t destroy your only home.”
— Jane Goodall (1934–2025)
Pada 1 Oktober 2025, dunia berduka. Jane Goodall, primatolog dan konservasionis asal Inggris yang mengubah cara manusia memahami simpanse lewat penelitian di Gombe, meninggal dunia di usia 91 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Jane Goodall Institute, yang menyebut ia wafat karena penyebab alami saat berada di California untuk tur ceramah.
Kepergian Jane bukan sekadar akhir perjalanan seorang ilmuwan. Ia meninggalkan kekosongan nilai bagi dunia yang kian jauh dari harmoni dengan alam. Di antara jutaan manusia yang pernah meneliti kehidupan, hanya sedikit yang mampu mengubah cara kita memahami makhluk lain—dan Jane Goodall adalah salah satunya.
Awal yang Sederhana dari Seorang Gadis Penyayang Hewan
London, 1934. Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, lahirlah seorang bayi bernama Valerie Jane Morris-Goodall. Tak ada yang tahu, bahwa kelak bayi itu akan menjadi sosok yang mengubah pandangan dunia tentang hubungan manusia dan hewan. Sejak kecil, Jane bukan anak yang biasa. Ia lebih tertarik mengamati burung dan serangga di taman ketimbang bermain boneka di ruang tamu. Rasa ingin tahunya terhadap alam sudah terlihat bahkan sebelum ia bisa membaca.
Suatu hari, ketika usianya baru 18 bulan, ibunya menemukan Jane kecil membawa segenggam cacing tanah ke tempat tidur. Bukannya dimarahi, sang ibu justru berkata lembut bahwa cacing akan mati jika jauh dari tanah. Jane mendengarkan, lalu berlari ke taman untuk mengembalikan cacing-cacing kecil itu ke tempat asalnya. “Instead of scolding me,” kenang Jane, “she quietly told me they would die without earth.” Sejak itu, pelajaran sederhana tentang empati tertanam kuat dalam dirinya—bahwa memahami alam berarti menghargainya.
Rasa ingin tahunya tumbuh bersama buku-buku tentang hewan dan petualangan, termasuk Tarzan of the Apes yang menjadi favoritnya. Di usia 10 tahun, Jane sudah bermimpi pergi ke Afrika dan menulis tentang hewan liar. Sebuah cita-cita yang dianggap “tidak realistis” untuk perempuan di Inggris tahun 1940-an. Tapi ibunya tak pernah menertawakannya. Justru beliau menanamkan keyakinan: “If you really want something, and you really work hard, you’ll find a way.”
Tidak memiliki biaya untuk kuliah, Jane bekerja sebagai sekretaris dan pelayan untuk menabung demi mewujudkan impiannya. Uang yang ia kumpulkan akhirnya cukup untuk membeli tiket kapal menuju Kenya—perjalanan yang mengubah segalanya. Di sana, Jane bertemu Dr. Louis Leakey, antropolog kenamaan yang melihat potensi luar biasa dalam diri perempuan muda tanpa gelar akademik itu.
Leakey tertarik pada ketekunan dan empati Jane terhadap hewan, lalu menawarkan kesempatan yang jarang diberikan kepada siapa pun: meneliti perilaku simpanse liar di Gombe, Tanzania. Tahun 1960, di usia 26 tahun, Jane memulai pengamatan yang akan mengubah sejarah ilmu pengetahuan dan cara manusia memandang hewan.
Gombe: Titik Balik Antara Sains dan Keistimewaan
Dengan bekal sederhana dan dorongan keingintahuan, Jane Goodall memasuki dunia penelitian primata dengan keberanian yang banyak dipertanyakan. Tanpa latar akademik formal, ia mulai membangun kepercayaan di antara simpanse-simpanse itu melalui kesabaran dan pengamatan teliti. Prosesnya panjang dan sunyi, hingga akhirnya ia mencapai titik di mana alam liar tampak menjawab panggilannya bukan sekadar sebagai bahan kajian, tetapi sebagai dialog tentang keberadaan.
Setelah tahap pengamatan yang penuh kesabaran, Jane akhirnya menyaksikan sesuatu yang akan menggetarkan dunia ilmiah. Ia mencatat bahwa simpanse yang diberi nama “David Greybeard” memasukkan batang rumput ke dalam sarang rayap kemudian menariknya kembali — dan rayap-rayap melekat pada batang itu, seperti “memancing” mangsa. Temuan ini menunjukkan bahwa simpanse bukan hanya menggunakan alat, tapi juga membuat dan memodifikasinya—misalnya dengan mengupas daun agar batang itu efektif sebagai umpan.
Dalam reaksi penuh semangat, Louis Leakey menulis padanya:
“Now we must redefine ‘tool,’ redefine ‘man,’ or accept chimpanzees as humans.” Kata-katanya mencerminkan betapa besar dampak satu pengamatan itu: fragmen tindakan kecil yang menantang batas antara manusia dan hewan dalam ilmu pengetahuan.
Tetapi Jane tidak berhenti di situ. Ia mengamati bahwa simpanse tidak hanya mengandalkan tumbuhan: mereka ternyata juga berburu dan memakan hewan — sebuah fakta yang sebelumnya tidak dipercaya. Selama penelitiannya di Gombe, ia merekam simpanse yang membunuh red colobus monkey dan membagi hasil buruannya.
Sumber: Voiceless
Lebih mengejutkan lagi, Jane juga mencatat aspek emosional dan sosial di antara simpanse: mereka menunjukkan kasih sayang, pelukan, bahkan adopsi anak yatim dalam komunitasnya. Dengan observasi-observasi itu, ia perlahan menggugurkan anggapan bahwa hewan itu hanya mesin biologis. Dalam catatannya dan publikasi Jane Goodall Institute, metode observasi yang immersif dan penamaan individu simpanse (bukan hanya nomor) menjadi bagian dari pendekatan revolusioner yang mengikis jarak antara peneliti dan subjeknya.
Dari Gombe, Jane tidak hanya mengumpulkan data perilaku, tetapi merajut narasi bahwa alam liar menyimpan dunia batin tersembunyi — bahwa di balik tindakan mereka, ada keseimbangan antara insting, emosi, dan kecerdasan.
Gerakan Konservasi dan Warisan Global
Seiring waktu, Jane mulai menyadari bahwa penelitian saja tidak cukup. Ia melihat hutan di sekitar Gombe perlahan menghilang, digantikan oleh lahan pertanian dan pemukiman. Populasi simpanse menurun drastis. “Aku sadar, jika aku tidak berbicara untuk mereka, siapa lagi yang akan melakukannya?” katanya dalam wawancara dengan The Guardian (2019).
Pada tahun 1977, ia mendirikan Jane Goodall Institute (JGI)—organisasi yang berfokus pada konservasi habitat satwa liar dan pemberdayaan masyarakat lokal di Afrika. Melalui JGI, Jane memadukan sains dengan kemanusiaan. Ia tidak hanya melindungi simpanse, tetapi juga membantu masyarakat di sekitar hutan dengan program pendidikan, pertanian berkelanjutan, dan kesehatan.
Dari pemikiran itulah lahir Roots & Shoots, program pendidikan global yang dimulai tahun 1991 di Tanzania bersama sekelompok siswa muda. Kini, gerakan ini telah menjangkau lebih dari 60 negara dan melibatkan ratusan ribu anak muda di seluruh dunia—mengajarkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari aksi kecil.
“Setiap individu punya peran. Setiap tindakan punya makna,” ujar Jane dalam wawancara bersama BBC Earth (2021). Kalimat itu menjadi mantra bagi generasi muda yang tumbuh dengan kepedulian terhadap bumi.
Jejak yang Tak Pernah Padam
Sumber: Science Friday
Lebih dari enam dekade sejak pertama kali ia melangkah ke hutan Gombe, jejak Jane Goodall tak pernah benar-benar pudar. Kini, dunia mengenangnya bukan hanya sebagai ilmuwan yang mengubah cara kita memahami hewan, tetapi juga sebagai sosok yang menyalakan kesadaran baru tentang arti kemanusiaan itu sendiri.
Meski tubuhnya telah tiada, warisan pemikirannya tetap hidup dalam setiap lembaga konservasi, penelitian perilaku hewan, dan gerakan anak muda yang menanam pohon dengan keyakinan bahwa bumi masih layak diperjuangkan. Melalui Jane Goodall Institute dan program Roots & Shoots, semangatnya menjalar ke lebih dari seratus negara, menginspirasi ribuan anak dan remaja untuk berbuat baik bagi lingkungan dan sesama.
Berbagai penghargaan dunia mulai dari Kyoto Prize, UN Messenger of Peace, hingga Templeton Prize—hanya sebagian kecil dari pengakuan terhadap kiprahnya. Namun seperti yang sering ia katakan, penghargaan sejati bukan berasal dari panggung, melainkan dari perubahan nyata di hati manusia.
Dalam buku The Book of Hope (2021), Jane menulis bahwa harapan bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan “keputusan sadar untuk terus percaya, meski dunia tampak suram.” Kata-kata itu kini menggema lebih kuat dari sebelumnya.
Dan mungkin di antara desir angin Gombe yang dulu menjadi rumahnya, masih ada gema langkah seorang perempuan yang percaya bahwa kelembutan bisa mengubah dunia. Jane Goodall telah pergi, tetapi cintanya kepada bumi dan keyakinannya bahwa setiap makhluk memiliki arti—akan terus hidup dalam setiap upaya manusia menjaga planet ini.